 |
| Mensyukuri Nikmat Tuhan |
"Langit Bagai Atap Rumahku, dan Bumi Sebagai Lantainya", syair
lagu "Gelandangan" karangan bang haji Rhoma Irama mungkin sering
terdengar di telinga kita, namun tahukah anda bahwa lagu tersebut memiliki
makna yang begitu luas, salah satunya adalah menceritakan tentang kehidupan
nasib gelandangan, sebagian orang menilai bahwa gelandangan selalu identik
dengan hal-hal yang berbau pelanggaran, misalnya mencuri, minum-minuman keras,
narkoba, dan lain-lain. Namun itu SALAH tidak semua gelandangan melakukan hal
itu, sebenarnya mereka adalah saudara kita yang terkena musibah, dan menjadi
tanggung jawab kita bersama, gelandangan ada karena ketidak pastian aturan
mengenai orang-orang terlantar dan fakir miskin yang dibuat pemerintah,
gelandangan ada karena kekejaman para pelaku kapitalisme yang merampas
matapencaharian mereka, gelandangan ada karena banyaknya anak-anak yang putus
sekolah atau tidak memiliki kemampuan untuk berkompetisi.
Dibalik itu semua gelandangan mengajarkan kita agar selalu mensyukuri nikmat
yang telah diberikan tuhan kepada kita, gelandangn mengajarkan kita pada
kesederhanaan hidup, arti hidup, dan perjuangan bertahan hidup.
Kesederhanaan hidup, ialah dapat mensyukuri anugrah yang telah diberikan
Tuhan, hidup tak berlebihan dan hidup sewajarnya, maksut dari sewajarnya ialah
memperhatikan kedepan, mencari uang yang halal, dan sanggup memberikan manfaat
bagi orang lain.
Kita amati kehidupan sehari-hari kita, setelah itu kita amati kehidupan para
gelandangan dan coba kita bandingkan, pasti kita tak akan sanggup bila kita
menjalani kehidupan layaknya gelandangan. suatu ketika ada beberapa anak
gelandangan kami wawancarai, saat kami tanya mengenai Cita-cita dan harapan
mereka, mereka menjawab " Kami ingin hidup layaknya teman-teman seusia
kami, yang mana bisa sekolah, belajar, dan dapat uang jajan. Kami bercita-cita
ingin menjadi Sopir Truck, Sopir Bus, dan kerja di pabrik" kita amati dari
jawaban mereka, jawaban yang jujur dan penuh makna bagi kita semua, mereka
ingin sekali bersekolah, mereka ingin sekali bekerja yang halal, namun
kenyataan yang mereka alami sangat malang, mereka harus menerima pahitnya
hidup, hidup di jalanan dan kesulitan buat makan sehari-hari.
Dari segi prestasi banyak sekali karya yang dibuat saudara kita yang kurang
beruntung tersebut yakni lagu/syair,
karya drama, dan lain-lain, bahkan ada karya yang sudah membuat mereka sukses
dan terkenal.
Kita lihat artis cilik Tegar, berkat lagunya yang berjudul “Aku yang dulu bukanlah
yang sekarang” kini dia menjadi sukses dan terkenal, Tegar dulunya seorang
pengamen yang hanya bernyanyi di jalanan atau perkampungan, kini menjadi
penyanyi terkenal dan sering show di acara-acara besar, bahkan sudah ke dapur
rekaman.
Gelandangan adalah kisah perjuangan hidup untuk bertahan hidup dalam suatu
kehidupan, andai alam dikembalikan seperti semula, tak ada teknologi, tak ada
uang, tak ada sesuatu yang seperti saat ini, yang ada hanyalah alam dan
manusia, apakah kita bisa bertahan hidup, tentu saudara-saudara kita yang hidup
menggelandanglah yang tahan dan mampu melewati hidup tersebut.
Gelandangan, bukan karena mereka miskin, mereka kaya, kaya akan pengalaman
hidup, pengalaman jalan, dan pengalaman-pengalaman lain yang notabenya kita tak
memilikinya. Namun, seringkali kita memandang mereka dengan sebelah mata,
padahal mereka sangat hebat, mereka sanggup menemui jati dirinya, mereka bisa
jadi diri sendiri, sebab kenapa mereka terlahir di jalanan, dari kecil sudah
merasakan susahnya hidup, namun juga tidak baik kalau membiarkan mereka terus
menerus gelandangan, sebab bagaimana negara ini bisa maju kalau rakyatnya masih
kesulitan makan dan tak bisa sekolah. Sebagai generasi penerus mari kita mulai
dari diri kita sendiri agar sadar akan kemajuan bangsa, mari kita jadikan
pelajaran bagi kita semua tentang kehidupan saudara-saudara kita yang kurang
beruntung, dan kita upayakan agar tak ada lagi Anak Indonesia yang tak sekolah,
tak ada lagi rakyat yang kelaparan, dan tak ada lagi rakyat yang hidup
gelandangan.